Banjir dan Tanah Longsor Tutup Total Jalur Bandung–Prigi Trenggalek, Warga Diminta Waspada

Banjir dan Tanah Longsor

Danhoppermedia.com – Hujan deras yang turun sejak Jumat malam (30/1) membawa dampak serius bagi warga Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Banjir dan tanah longsor terjadi di sejumlah titik, salah satunya di Desa Watulimo, Kecamatan Watulimo. Akibatnya, jalur utama Bandung–Prigi Trenggalek tertutup total oleh material lumpur dan bebatuan.

Read More : Catat 28 Rute TransJakarta yang Terlambat hingga Dialihkan Imbas Banjir Kamis Pagi

Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu, terutama bagi mereka yang biasa melintas di jalur tersebut untuk bekerja, berdagang, maupun keperluan sehari-hari. Pemerintah daerah bersama tim gabungan langsung bergerak cepat untuk menangani situasi di lapangan.

Kronologi Banjir dan Longsor di Jalur Bandung–Prigi

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah Watulimo sejak sore hari. Curah hujan yang cukup lama membuat tebing di sekitar jalan raya tidak mampu menahan air.

Akibatnya, terjadi banjir luapan yang membawa material lumpur dan bebatuan ke badan jalan. Longsoran tersebut menutup akses jalan dengan ketebalan sekitar 40 hingga 50 sentimeter. Jalan Raya Bandung–Prigi pun tidak bisa di lalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.  Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menjelaskan bahwa kondisi ini memaksa pihak berwenang menutup jalur tersebut demi keselamatan pengguna jalan.

Dampak Bencana Terhadap Permukiman Warga

Tidak hanya menutup akses jalan, banjir dan longsor juga berdampak langsung pada rumah warga. Material lumpur masuk ke beberapa permukiman di Desa Watulimo. Tercatat dua rumah di RT 05 dan empat rumah di RT 04 terdampak genangan lumpur dengan ketinggian sekitar 15 hingga 30 sentimeter. Perabotan rumah tangga, lantai, dan dinding rumah ikut tertutup lumpur, sehingga warga harus melakukan pembersihan secara manual.

Meski demikian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Warga juga tetap dalam kondisi aman, meskipun harus menghadapi kerugian materi dan aktivitas yang terganggu.

Penanganan Darurat oleh Tim Gabungan

Setelah menerima laporan, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Trenggalek langsung turun ke lokasi. Mereka bekerja sama dengan TNI, Polri, pemadam kebakaran, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Fokus utama penanganan adalah membersihkan material longsor yang menutup jalan dan rumah warga. Alat berat juga di siapkan untuk mempercepat proses evakuasi lumpur dan batuan.

Selain itu, tim gabungan melakukan pendataan dampak, memberikan bantuan awal, serta memastikan tidak ada titik rawan lanjutan yang berpotensi longsor kembali.

Banjir di Wilayah Gandusari Turut Terjadi

Selain di Watulimo, hujan deras juga memicu banjir luapan di Jalan Raya Gandusari–Kampak, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 18.30 WIB dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 40 sentimeter.

Read More : Banjir Meninggi hingga 135 Cm di Kampung Melayu, Warga Bertahan di Lantai Dua

Genangan air sempat masuk ke satu rumah warga dengan ketinggian sekitar 10 sentimeter. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada pukul 20.00 WIB, air sudah surut dan warga mulai melakukan pembersihan secara mandiri.

Imbauan BPBD dan Jalur Alternatif

BPBD Trenggalek mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan. Curah hujan tinggi masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah perbukitan dan lereng.

Bagi warga yang hendak menuju Kecamatan Watulimo, di sarankan untuk menggunakan jalur lintas selatan sebagai alternatif sementara waktu. Pengendara juga di minta memantau informasi resmi sebelum bepergian.

Baca juga: Berbahaya! Bmkg Keluarkan Peringatan Hujan Lebat Untuk 5 Provinsi Hari Ini, Waspada Banjir!

Kesimpulan

Banjir dan longsor yang menutup jalur Bandung–Prigi Trenggalek menjadi pengingat penting akan risiko cuaca ekstrem di musim hujan. Selain mengganggu akses transportasi, bencana ini juga berdampak pada permukiman warga.

Dengan adanya penanganan cepat dari tim gabungan dan kerja sama masyarakat, kondisi perlahan mulai membaik. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama agar risiko bencana serupa dapat di minimalkan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *